Senin, 30 November 2015

Contoh Pidato Bahasa Inggris Bertema Linngkungan



LET’S MANAGE THE RUBBISH

            Assalamu’alaikum Wr. Wb.
            Honorable all the juries, honorable committee of the English speech contest, ladies and gentlemen. First of all, let’s thanks be to Allah SWT who has given us mercing ad blassing, so we can join this program healthy and happily, without any troubles. Sholawat and salm be to our prophet Muhammad who guided us from the darkness to the lightness, that is Islam. Let me thank to the committe who give me opportunity to join this program. English speech contest.
            Ladies and gentlemen. In this opportunity, I would like to perform a speech with a tittle “let’s manage the rubbish.”
           Why should we manage the rubbish ?
            Ladies and gentlemen. The rubbish that has not managed well will cause a source of problems. We know that we produce much more rubbish every day, especially home rubbish. Many of stuffs that we use are made by plastics, glass, paper and iron. Because of producing rubbish is more and more, we have difficulties to manage it, even for the employee of the rubbish himself. Those problems cause air pollution, flood, enhealthy environment and many kind of diseases. So, who will take the risk of those problems ?
           Brothers and sisters. As human being, we have to responsible for what we have done to our nature. We have to solve those environment problems. We must try to change our environment to be a healthy thing, we must make our environment clean, we must make other people comfort in our environment. The problem solves are our selves.
           Mojokerto is about 16.000 km wide compared with the total population about 6 million at night is twice more then at noon. The overload population in this city produce much more rubbish. Especially at Mojosari. Few people manage the rubbish by themselves. But, the scavengers also do something to the rubbish. They collect scraps from unneeded goods and sell them. Many communities recycle the rubbish to be meaning full things.
           Brothers and sisters. Theenviroment problems, especially rubbish need more effort to manage them. The rubbish that cannot be manage well will pollute air, water, and impact skin and digestion problem. But if we can manage it well, it will give us many advantages. For the example, the dry waste can be recycled to be something useful. Not only dry waste that can increase economic value, but also the wet waste can be recycled to be compost.
            Ladies and Gantlement. By these actions. We hope we can manage rubbish well, we can decrease the load of rubbish, we can make our environment clean and healthy
Ladies and gentlement. This is my speech that I can deliver today. If there are some mistake, please oppolojise me. Thank you. Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Jumat, 27 November 2015

Lirik Lagu Zhiend - Fallin' - Ost Charlotte

 Zhiend - Fallin' Lyrics Full Version - Ost Charlotte




 Looking up high, found a steel tower
Wondering how I would feel, if I fall down
Was it a dream? I saw deep red
Chasing, for what's far ahead, always yearning
Don't know why but the beauty
I really want may seem to be awkward to someone's eyes
Looking down below ground top of the tower
Fear takes over my heart and my knees won't stop shaking
Then I realize, I'm falling down
Why do the things I have loved, always breaking
Don't know why but the beauty
I really want may seem to be ugly to someone's eyes
Chasing, for what's far ahead, always yearning
Don't know why but the beauty
I really want may seem to be little crazy in sight
And now I'd be flying high to the sky
Lifting me to the yonder
Something brought me here so far from home
But I''m not cold at all

Kamis, 26 November 2015

Tragedi Karbala Oleh : Ust. Husein Alkaff



Dalam tragedi Karbala atau Asyura banyak pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik dan sekaligus diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebenarnya kejadian di padang Karbala, merupakan refleksi kehidupan manusia, karena salah satu peran yang ditampilkan disana adalah pengorbanan sejumlah manusia untuk sebuah tujuan yang sangat tinggi dan suci, yaitu menegakkan kebenaran dan keadilan. Manusia sebagai makhluk yang ciri khasnya adalah bersosial, tidak lepas dari pengorbanan.
Peristiwa pertama adalah masalah pengorbanan. Berkorban itu penting sekali, artinya manusia ini dalam kehidupan mesti berkorban. Seorang Ayah artinya berkorban untuk atau demi sesuatu yang dia cintai, yang dia sucikan, itu adalah kenyataan dari kehidupan manusia ini. Seorang Ayah dia pasti mencintai istrinya. Seorang Ayah juga mencintai anaknya, jelas dia berkorban demi istrinya, demi anaknya. Dia keluar memeras keringat, banting tulang, demi istri dan anak, ini pengorbanan. Kita lihat para TKW atau TKI pergi ke luar negeri, meninggalkan kerabat dan kampung halaman, hanya untuk suatu pengorbanan. Pengorbanan ini mungkin demi istri, demi anak atau malah sebagian demi suami. Orang meninggalkan keluarganya bertahun-tahun, mungkin berhari-hari demi keluarganya. Atau sebaliknya orang yang karena cinta dunia mengorbankan keluarganya. Karena mencintai karir atau jabatan, akhirnya istri dan anaknya ditelantarkan. Dia kurang mendekati istrinya, dia menelantarkan istrinya, kasih sayang kepada anaknya juga dikurangi demi karir atau jabatan. Bahkan dia korbankan istri dan anaknya demi karir, demi prestise, atau kedudukan sosial. Dia harus berpahit-pahit demi yang dia cintai.
Pengorbanan adakah suatu hal yang alami. Kehidupan ini juga bukan lain adalah pengorbanan. Jadi pengorbanan adalah hal yang thabi’i atau hal yang manusiawi, yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Kita pilih apa yang kita cintai atau apa yang kita utamakan, sedangkan semua yang lain kita korbankan. Nah, Islam menjelaskan apa yang mesti kita korbankan, untuk apa kita berkorban. Para Nabi datang, para Imam diangkat, dalam rangka menjelaskan, "Wahai manusia pengorbanan yang kalian persembahkan seharusnya untuk Allah SWT.." Istri kita korbankan, anak kita korbankan, harta kita korbankan, malah nyawa pun kita korbankan demi Islam, demi kebenaran, demi Allah SWT.. Inilah yang hendak dijelaskan oleh Rasulullah saw.. Inilah yang ingin disampaikan oleh Imam Husein as. yang kita peringati hari wafatnya setiap 10 Muharram. Beliau mengorbankan semuanya demi kebenaran.
Al-Quran yang mulia menjelaskan ada seorang manusia yang luar biasa, yang mengorbankan apa pun demi Allah, demi hak, demi kebenaran, yaitu Nabi kita Ibrahim as. Bapak para Nabi, penghulu kaum monotheis, kaum muwahhidin. Allah SWT. menyebut Ibrahim as. dengan sebutan yang indah sekali dan melestarikan namanya dalam Al-Quran. Juga semua perbuatan Ibrahim itu dilestarikan melalui ibadah haji. Atas semua pengorbanan beliau, Allah memberikan satu bonus yang paling tinggi yaitu Imamah, kepemimpinan. Allah berfirman, "Ingatlah ketika Allah menguji Ibrahim dengan beberapa kalimat." Para ahli tafsir menjelaskan kata ‘kalimat’ di sini adalah berarti, ujian. Allah telah menguji Ibrahim dengan berbagai ujian, dan Ibrahim mampu menyelesaikannya dengan sempurna. Allah menguji Ibrahim dengan bermacam-macam ujian, dan banyak sekali, berpuncak pada perintah untuk mengorbankan putranya Ismail.
Ibrahim as. ingin mempunyai seorang anak. Beliau mengadu kepada Allah, "Ya Allah tulangku sudah rapuh dan rambutku sudah mulai beruban, berilah aku keturunan." Lalu Allah memberi beliau seorang putra bernama Ismail yang melalui Siti Hajar. Sangat girang sekali Ibrahim mendapatkan karunia anak. Di tengah kegembiraannya mempunyai anak, dia diperintahkan oleh Allah untuk hijrah ke Palestin dan meninggalkan istri dan anaknya di sebuah lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan, yang kering kerontang, di dekat Kabah yaitu Mekah. Ibrahim diperintah oleh Allah untuk meninggalkan Siti Hajar beserta bayi yang masih kecil di sebuah tempat yang tidak ada tumbuh-tumbuhan, tidak ada air. Kalau kita mungkin tidak akan mau. Istri ditinggalkan tanpa ada makanan, tanpa ada air. Tapi ini adalah perintah Allah. Ibrahim as. taat karena perintah tersebut dari Allah. Kecintaan Ibrahim as. kepada Allah melebihi kecintaan kepada istri dan anak. Ini pengorbanan yang sangat besar. Saya kira diantara kita tidak ada yang sanggup sama sekali seperti Nabi Ibrahim, kecuali jika kita sudah sampai pada derajat Nabi Ibrahim.
Setelah dari Palestin kembali ke Mekah, kerinduan kepada anaknya luar biasa. Ibrahim as. bertetemu Ismail yang sedang lucu-lucunya. Ketika meluapkan rasa rindu dan kangennya kepada Ismail, Ibrahim as. bermimpi, di daslam mimpi tersebut Ibrahim as. menerima wahyu untuk menyembelih Ismail. Ini ujian lain yang lebih berat. "Wahai putraku," kata Ibrahim, "aku bermimpi menyembelihmu, bagaimana pendapatmu". Tapi mimpi Ibrahim adalah wahyu, yang berbeda dengan mimpi kita. Ismail pun bersedia disembelih.
Allah ingin menguji sejauh mana kecintaan Ibrahim, apakah dia lebih cinta kepada Allah atau kepada Ismail. Ternyata bagi Ibrahim Allah adalah segalanya. Ismail dikorbankan demi Allah SWT.. Ini adalah pengorbanan yang maha dahsyat, berat dan tidak mudah. Ibrahim mengerjakan dengan mudah karena mencintai Allah melebihi segalanya. Inilah pengorbanan yang hakiki, pengorbanan yang benar. Oleh karena itu Allah mengabadikan Ibrahim as. dalam Al-Quran dan semua perbuatan Ibrahim diabadikan oleh seluruh agama samawi. Semua agama samawi mengklaim sebagai pengikut Ibrahim. Kaum Yahudi berkata, kamilah pengikut Ibrahim. Kaum Nasrani mengaku kamilah pengikut Ibrahim dan kita orang Islam pun mengklaim sebagai pengikut Ibrahim, karena bangga menjadi pengikut Nabi Ibrahim.
Sekarang peringatan manasikul hajj ini simbol tentang perjuangan dan pengorbanan Ibrahim. Demikian pula kita selama ini, dalam memperingati Asyura yang merupakan lambang dari sebuah pengorbanan yang dipersembahkan oleh cucu Rasulullah saaw kepada Allah SWT.. Dia mengorrbankan anaknya yang paling kecil sekalipun, yang masih bayi menyusui dikorbankan dan terakhir nyawanya sendiri dikorbankan demi kebenaran, demi keadilan, demi Allah SWT., itulah peristiwa Asyura. Pengorbanan memang perlu perjuangan, tidak mudah, orang mungkin berkorban sesuai dengan kemampuan masing-masing. Orang yang mungkin berpenghasilan seratus ribu sebulan, kalau dia mengorbankan lima puluh ribu rupiah mungkin sangat berat. Kalau yang berpenghasilan jutaan rupiah lalu berkorban lima puluh ribu, bukanlah suatu pengorbanan namanya.
Allah berfirman, "Kalian tidak akan pernah mendapatkan birr (kebaikan) sampai menginfaqkan, mengorbankan apa yang kalian cintai." Ini berat, kalau orang cinta kepada anak, kepada istri lalu harta dikeluarkan belum berkorban namanya, bukan birr karena dia lebih mencintai anaknya. Kalau orang mencintai harta dia korbankan istrinya, bukan birr namanya karena dia mencintai harta ketimbang istrinya. Mungkin sekarang ada orang yang demi mengejar karir dia rela mengorbankan istri dan anaknya. Berjam-jam di luar, istri dan anaknya ditinggalkan di rumah demi karir. Saya yakin berkorban demi kecintaan kepada dunia sampai rela meninggalkan istri dan anak itu bukan birr namanya. Sementara al-Husain, beliau mengorbankan, menginfaqkan apa yang dia cintai demi al-birr, demi kebaikan, demi Allah SWT., ini berat sekali. Tentu saja di sini, saya tidak bermaksud menghimbau Anda, hanya ingin menceritakan bahwa inilah peristiwa Asyura, dan jangan mengartikan bahwa saya telah berkorban, tidak demikian. Saya keberatan jika sebagai penceramah dianggap telah melaksanakan apa yang telah disampaikan. Mari kita sama-sama belajar dari madrasah Asyura. Kita belajar dari universitas Karbala sekarang ini, belajar dari beliau, Imam Husayn bin ‘Ali as.. Saya belajar, juga anda semua. Tidak hanya anda saja yang belajar, lalu saya tidak, kita sama-sama belajar dan berusaha. Pengorbanan itu tidak mudah, tapi kita mesti mencoba semampu kita.
Lihatlah Al-Husain as., dia mengorbankan semuanya. Dia mengorbankan kerabatnya. Dia korbankan anaknya dan dia korbankan nyawanya. Mana yang paling berat, semuanya berat yang bergantung pada yang kita cintai. Mungkin ada orang yang lebih mencintai anaknya ketimbang dirinya sendiri. Ada tidak ?, tentu banyak. Sering kita dengar, "dari pada anak saya sakit lebih baik saya yang sakit," ada yang berpikiran begitu. Berarti dia lebih mencintai anaknya ketimbang dia sendiri, artinya dia siap sakit, siap mati, yang penting anaknya sehat dan hidup. "Biarlah saya yang mati, atau sengsara dari pada istri saya yang sengsara," berarti dia lebih mencintai istri ketimbang dirinya sendiri. Jadi mengorbankan diri sendiri lebih mudah ketimbang mengorbankan anak, istri dan biasanya inilah yang sering terjadi. Ada orang yang cinta kepada binatang, dia pelihara binatang tersebut. Dia sendiri tidak mengurus dirinya, bahkan rasa lapar dilupakannya, karena asyik dengan binatang piaraannya. Artinya dia mengorbankan dirinya demi binatang piaraannya. Ini adalah realita kehidupan kita sekarang ini.
Kita lihat bagaimana Al-Husain as, semua tindakannya, telah beralih kepada kecintaannya kepada Allah yang merupakan tindakan pengorbanaann. Dia mengorbankan anaknya, agar tidak sampai anaknya lebih dia cintai ketimbang Allah Ta’ala. Dia korbankan para sahabat setianya. Dia korbankan negerinya Madinah. Dia korbankan hartanya, jelas. Dan terakhir dia korbankan nyawanya. Semua perkara yang kira-kira dapat menyedot perhatian dia, dia korbankan demi Allah Ta’ala. Itulah Karbala, itulah Asyura. Tanpa ingin membanding-bandingkan dan agar tidak disalah pahami. Kalau Nabi Ibrahim as. mengorbankan putranya lalu diganti dengan domba, tapi di Karbala Al-Husain as. mengorbankan anaknya apakah diganti dengan seekor domba. Mana yang lebih berat. Jawabannya terserah masing-masing.
Jadi pengorbanan Al-Husain jauh lebih berat dari pada pengorbanan kakeknya Nabi Ibrahim as. Ini jelas, Nabi Ibrahim diganti seekor domba, tapi Al-Husain as. mengorbankan anak yang masih kecil Abdullah Arrodhi. Dia angkat tangannya berilah air, datang anak panah menusuk sampai tembus ke lehernya, sehingga menjadi korban tanpa diganti dengan seekor domba. Ini pengorbanan. Oleh karenanya para Nabi as. jauh hari telah merayakan, telah memperingati Asyura. Nabi Nuh, Nabi Adam sekalipun, Nabi Ibrahim jauh-jauh hari telah merayakan peristiwa Asyura. Mereka tahu akan terjadi sebuah pengorbanan yang sangat besar, yang tidak pernah dikerjakan oleh siapapun di dunia ini, hatta Nabi Ibrahim as. Itu Asyura, mereka ingin mendaftarkan diri menjadi pasukan Al-Husain as. Dan juga jawaban yang lain, mengapa, apakah memperingati Asyura bid’ah? seribu tidak. Rasulullah saaw telah memperingati Asyura.

Ketika Sayyidah Fatimah melahirkan Al-Husain dalam perut bayi itu ada ludah Rasulullah saaw, ludah yang suci. Beliau memangkunya sambil menangis tersedu-sedu. Datang pembantunya, "Ya Rasulullah mengapa anda menangis, apa yang menyebabkan anda menangis ? " Nabi menjawab, "Wahai Fulanah tadi Jibril datang kepadaku, dia mengatakan bahwa putraku ini yang baru lahir sekarang ini nanti akan dibunuh oleh orang-orang yang mengaku sebagai pengikutku." Beliau menangis, beliau sebutkan bahwa itu akan dibunuh di padang Karbala. Itu Rasulullah sudah meratapi, memperingati, apa yang akan dialami oleh cucunya atau bayi yang baru lahir tersebut. Lalu Nabi bertanya kepada Ali as, "Wahai Ali apakah anda telah menamainya ?" Ali menjawab, "Aku tidak akan mendahuluimu dalam memberinya nama. " Nabi menjawab, "Namailah Husain."
Dan juga riwayat yang lain, Ummu Salamah ra. juga oleh Nabi diberi botol yang berisi tanah dari Karbala. "Wahai Ummu Salamah ini adalah tanah Karbala yang dibawa oleh Jibril untukku, kau simpanlah. Ketika tanah ini menjadi darah atau warnanya merah, maka pada waktu itulah cucuku Husain dibunuh."
Jadi memperingati Asyura, menangis, meratapi wafatnya Imam Husein as. adalah sunnah Rasulullah saaw yang dikerjakan ketika beliau masih hidup. Jadi adanya kritikan dari pihak-pihak yang keberatan tadi, yang dikatakan oleh ketua Yayasan Al-Mukaramah, jelas kritikan yang tidak berdasar atau karena tidak mengetahui apa yang melatar belakangi peringatan Asyura. Jadi banyak hikmahnya kita ambil dari lambang Asyura, dari peringatan Asyura, yaitu pengorbanan. Pengorbanan untuk kebenaran, untuk Allah SWT., itu yang pertama.
Yang kedua, berkorban itu jelas terpuji dan dianjurkan oleh Islam. Tetapi Islam ingin menjelaskan ketika kita berkorban hendaknya berkorban dengan ikhtiar, dengan merdeka, dengan bebas tanpa ada paksaan, itu yang indah sekali. Kita berkorban untuk Allah Ta’ala, kita mengabdi kepada Allah tetapi pengabdian yang kita persembahkan, pengorbanan yang kita haturkan untuk Allah hendaknya dilandasi dengan kebebasan, dengan senang hati tanpa ada unsur paksaan.
Satu cerita menarik dari peristiwa Asyura ini, di malam Asyura, di malam ke sepuluh Muharram. Malam sudah tiba, kegelapan telah menyelimuti padang Karbala. Imam Husain as. memanggil para sahabat setianya. Beliau mengatakan, wahai para sahabat setiaku, aku tidak menyaksikan sahabat yang lebih setia dari kalian. Aku belum pernah lihat kerabat yang lebih baik dari kalian. Kita bayangkan sebagaimana kaum muslimin tahu, ini pasukan kecil yang akan menghadapi pasukan Yazid alaihi laknat. Konsekwensi berangkat ke Karbala adalah mati, banyak orang yang mundur dari itu. Sahabat besar pun semacam Abdullah bin Umar punya kebijakan, "Wahai Husain sebaiknya anda tinggal di Mekah saja, tidak membaiat Yazid, juga tidak menolak, abstain, kan aman."
Ini prinsip dari Abdullah bin Umar. Aman sajalah kita bisa da’wah tanpa harus menolak baiat yang jelas mati akibatnya dan juga tanpa membaiat, karena baiat pada Yazid penguasa peminum khamar, kita diam-diam saja, kan aman. Ada orang yang cari keamanan, tapi Imam Husein menolak. Memang aman dan dia mungkin bisa ibadah dengan leluasa, dengan tenang tanpa akan diganggu oleh penguasa. Tapi Al-Husain as. punya tanggung jawab agama yang besar, punya amanat dari Allah SWT.. Andaikan beliau diam saja maka siapa yang akan berontak melawan kedzaliman. Kalau beliau diam saja seperti sejumlah sahabat yang lainnya, maka siapa yang akan membawa bendera keadilan, siapa yang akan membela kebenaran.
Orang bisa beralasan lihatlah Al-Husain pun diam, apalagi kita. Mereka akan mencaci, "Lihatlah cucu Rasulullah, jelas-jelas Yazid penguasa yang jahat, merusak agama, menyimpang dari sunnah Rasulullah, Al-Husain saja diam, untuk apa kita berontak." Akan demikian sejarah akan mengatakan, tapi beliau untuk menghilangkan pendapat demikian mesti berontak, dengan resiko apapun harus beliau terima untuk membela kebenaran, sehingga tidak ada alasan manusia untuk mundur, tidak berontak, tidak bergerak sama sekali. Itulah pelajaran yang lain dari peristiwa Asyura.
Nah kembali pada kisah tadi, pada malam kesepuluh Muharram beliau mengumpulkan para sahabat setianya dan para kerabatnya. "Wahai para sahabatku sekarang malam gelap kalian pulanglah ke Madinah, bawa masing-masing pasangannya. Mereka para musuh hanya ingin membunuhku, mereka tidak ingin membunuh kalian, pulanglah kalian saya ikhlaskan tidak usah berjuang, saya tidak akan menuntut, mereka hanya menginginkan aku." Ini ikhtiar, tapi bagaimana reaksi dari para sahabat beliau. "Wahai cucu Rasulullah, kalau kami membiarkan anda berjuang sendirian, dimana akan kami letakkan mukaku di hadapan Rasulullah saaw. Aku malu dengan kakekmu Rasulullah kalau kami membiarkan anda berjuang sendirian." Ada yang menjawab, "Wahai cucu Rasulullah andaikan aku dibunuh sekarang ini dan jasadku dicincang-cincang sampai sekian bagian lalu Allah hidupkan lagi aku, aku berjuang lebih lagi sampai tujuh kali." Artinya keikut sertaan para sahabat Al-Husain as. semata-mata karena ikhtiar, bebas, tanpa paksaan. Padahal beliau membebaskan, mengikhlaskan, kalian pulang dari Karbala. Mereka tidak mau, inilah sahabat yang hakiki.
Berjuang membela Al-Husain tidak karena ancaman, bukan karena tidak enak kepada cucu Rasulullah, tidak karena apa-apa, tapi karena semata-mata bebas dan cinta kepada Al-Husain as. Lain dengan peristiwa Thorik bin Ziyad, salah seorang panglima Bani Umayyah atau Abdullah bin Marwan. Ketika dia mendarat di benua Eropa atau Konstantinopel, dia membawa pasukan Arab atau pasukan Islam ke Eropa menyebrangi lautan mediterania. Setelah menyebrang kapal-kapal dibakarnya. Habis kapal dibakar, sementara pasukan Romawi di hadapan mereka. Thorik bin Ziyad berkata kepada pasukannya, "Wahai pasukan Islam, wahai pasukan Arab, terserah kalian pulang ke Arab sana tapi tidak ada kapal lagi. Ingin menyebrang lautan kalian mati dimakan ikan hiu atau perang melawan pasukan Romawi." Ini pilihan pahit semuanya, jadi mereka berjuang terpaksa. Tapi lain dengan Al-Husain as. memberi peluang kepada para sahabat untuk pulang dan saya ikhlaskan, beda tidak, sangat beda sekali. Inilah hikmah atau pelajaran dari madrasah karbala. Dan banyak lagi hikmah-hikmah yang dapat kita ambil dari peristiwa Asyura Karbala.
Nah kita dalam memperingati Asyura setiap tahun ini, sejauh mana mengadakan evaluasi, koreksi terhadap diri kita. Sejauh mana kita meneladani Al-Imam Husain as. Bukan saya memudahkan, tentu itu adalah perjuangan, pengorbanan , tidak kita langsung berkata "Ah saya ikut Imam Husain sekarang juga." Kita mesti bertahap-tahap, perlu pengenalan, perlu pembersihan hati, perlu melepaskan ikatan-ikatan materi dan dunia. Kalau sudah lepas dari ini semua mungkin orang bisa seperti para sahabat Imam Husain as. Kalau kita masih dibebani cinta dunia, istri, anak dan materi, jangan harap kita bisa seperti sahabat Imam Husein as.
Inilah peringatan Asyura. Inilah perlunya kita memperingati peristiwa tragis Karbala yang dialami oleh Imam Husein as. dan para sahabatnya. Oleh karena itu mari kita sampaikan duka cita kita yang mendalam kepada Rasulullah saaw. sebagai kakek Al-Husain as. Kepada Imam Ali bin Abi Thalib as. sebagai ayahandanya. Kepada Sayyidah Fatimah Az Zahra as. sebagai ibundanya dan kepada Imam Hasan as. sebagai kakandanya dan kepada Imam kita yang terakhir Shahibuz Zaman Al-Mahdi Ajjalallahu Farajahu Assyarif dan kepada seluruh kaum muslimin dimanapun berada, atas syahadah, wafatnya Imam yang kita cintai, Imam Husain as. Akhirul kalam, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
 (Ceramah ustadz Husein Alkaff pada peringatan hari Asyura di pesantren Al-Mukaramah Bandung, ditranskrip oleh : Donny Somadijaya, SH)

Senin, 23 November 2015

Tugas Aqidah



Kisah Ulama yang Berpura-pura Jadi Pengemis

Pakaiannya compang-camping, lusuh, kusam. Ia berjalan dengan bantuan tongkat dan berpura-pura pincang. Rambut dan jenggotnya dibuat semrawut. Dengan tampang meyakinkan, tak akan ada seorang pun yang tahu bahwa ia adalah pengemis palsu. Benar, tak ada satu pun warga yang menguak identitas aslinya. Ia merupakan seorang ulama dari Andalusia (saat ini Spanyol dan negara sekitar), Imam Baqi bin Mikhlad.

Saat itu ia ingin sekali belajar pada salah satu imam empat, Imam Ahmad. Ia pun berangkat dari Eropa, menyeberangi Laut Tengah menuju Afrika, kemudian melanjutkan perjalanan panjang ke Baghdad, Irak, tempat tinggal Imam Ahmad. Tanpa kendaraan, Baqi yang saat itu masih berstatus penuntut ilmu menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki. Hanya satu tujuannya, berguru pada sang imam.

Namun, Baqi mendengar kabar mengejutkan begitu tiba di Baghdad. Khalifah yang berkuasa saat itu jauh dari jalan Islam yang hanif. Imam Ahmad yang vokal pada kebenaran pun bereaksi menasihati khalifah. Namun, sang imam yang sangat mengagungkan Alquran dan sunah justru difitnah hingga dikucilkan. Ia juga dilarang mengajar ataupun mengumpulkan para penuntut ilmu. Imam Ahmad dianggap menentang paham yang dianut kekhalifahan. Sedihlah hati Baqi mendengar kondisi Imam Ahmad, guru yang diharapkannya memberikan ilmu barang satu ayat.


                                                                        ****


Kendati demikian, Baqi tetap mencari rumah Imam Ahmad. Tekadnya untuk berguru telah bulat. Ia pun melangkahkan kaki ke rumah sang imam. Saat mengetuk pintu, ternyata Imam Ahmadlah yang membukakannya. "Wahai Abu Abdullah, saya seorang yang datang dari jauh, pencari hadis dan penulis sunah. Saya datang ke sini pun untuk melakukan itu," ujar Baqi antusias.

"Anda dari mana?" tanya Imam Ahmad.
"Dari Maghrib al-Aqsa," jawab Baaqi.
Imam Ahmad pun menebak, "Dari Afrika?"

"Lebih jauh dari Afrika. Untuk menuju Afrika saya melewati laut dari negeri saya," jawab Baqi.

Imam pun kaget mendengarnya, "Negeri asalmu begitu jauh. Aku sangat senang jika dapat memenuhi keinginanmu dan mengajar apa yang kamu inginkan. Akan tetapi, saat ini saya tengah difitnah dan dilarang mengajar," jawab Imam Ahmad.


                                                                  ****


Tak putus asa mendengarnya, Keinginan Baqi untuk berguru pada Imam Ahmad tak mampu dibendung. Ia pun menawarkan berpura-pura menjadi pengemis. "Saya tahu Anda tengah difitnah dan dilarang mengajar wahai Abu Abdillah, akan tetapi tak ada yang mengenal saya di sini, saya sangat asing di tempat ini. Jika Anda mengizinkan, saya akan mendatangi rumah Anda setiap hari dengan mengenakan pekaian pengemis. Saya akan berpura-pura meminta sedekah dan bantuan Anda setiap hari. Maka wahai Abu Abdillah, masukkanlah saya ke rumah dan berilah saya pengajaran meski hanya satu hadis," pinta Baqi berbinar.

Melihat tekadnya yang begitu bulat dan amat giat menuntut ilmu, Imam Ahmad pun menyanggupi. Namun, ia meminta syarat agar Baqi tak mendatangi tempat kajian hadis ulama selain Imam Ahmad. Hal tersebut dimaksudkan agar Baqi tak dikenal sebagai penuntut ilmu. Statusnya sebagai penuntut ilmu sementara dirahasiakan.

Mendengar kesanggupan sang Imam, Baqi pun begitu bahagia. Ia segera menyanggupi persyaratan itu. Hati Baqi saat itu benar-benar dipenuhi bunga-bunga mekar nan indah. Keesokan hari, Baqi pun mulai 'beraksi'. Ia mengambil sebuah tongkat, membalut kepala dengan kain, dan pernak-pernik pengemis lain. Sementara itu, sebuah buku dan alat tulis berada di balik baju samarannya itu.

Ketika berada di depan pintu Imam Ahmad, Baqi dengan nada melas akan berkata, "Bersedekahlah kepada orang miskin agar mendapat balasan pahala dari Allah," ujarnya. Jika mendengarnya, Imam Ahmad segera membukakan pintu dan memasukkan Baqi ke dalam rumahnya. Di dalam rumah, dimulailah proses pengajaran ilmu yang amat diberkahi Allah itu. Demikian aktivitas itu dilakukan setiap hari oleh Baqi dan sang guru. Dari proses belajar diam-diam itu, Baqi mampu mengumpulkan 300 hadis dari Imam Ahmad.


                                                                ****


Hingga kemudian jabatan kekhalifahan berganti. Seorang Suni yang fakih beragama, al-Mutawakkil, naik menjabat sebagai khalifah. Sejak itu, sunah pun dibumikan kembali, bid'ah peninggalan khalifah sebelumnya segera dihapuskan. Imam Ahmad pun kembali menjadi ulama Muslimin. Kajiannya dibuka, para penuntut ilmu berbondong-bondong datang.

Sejak itu, kedudukan Imam Ahmad makin tinggi dan terkenal. Jumlah muridnya sangat banyak. Jika ia membuka majelis kemudian melihat Baqi, maka Imam Ahmad segera memanggil Baqi dengan gembira. Imam Ahmad akan meminta Baqi untuk duduk di samping beliau. "Inilah orang yang benar-benar menyandang gelar penuntut ilmu," ujar Imam Ahmad kepada para muridnya. Sang Imam pun mengisahkan pengalaman Baqi yang menyamar menjadi pengemis demi mendengar satu hadis. Baqi pun kemudian menjadi murid dekat Imam Ahmad. Ia di kemudian hari menjadi ulama terkenal dari kawasan Andalusia.

Kisah tersebut nyata terjadi dan ditulis dalam biografi Imam Baqi bin Miklad al-Andalusi. Dari kisah tersebut, tampak jelas kegigihan beliau dalam menuntut ilmu. Kegigihan inilah yang patut dicontoh Muslimin, terutama para pemuda. Apalagi menuntut ilmu dalam Islam itu hukumnya wajib. Rasulullah juga pernah bersabda, "Barang siapa berjalan dalam rangka menuntut ilmu maka akan dimudahkan jalannya menuju surga." (HR. Muslim).


 
Kokedama




Apa itu kokedama ?

Kokedama adalah model ‘rakitan’ tanaman yang dikembangkan di Negeri Sakura, Jepang. Kokedama berasal dari kata koke (lumut) dan dama (bola). Jadi bila ditarik kesimpulan, Kokedama adalah tanaman yang ditanam dengan menggunakan bola-bola lumut. Kreativitas ini sebenarnya turunan dari bonsai.

Kokodama itu kayak gini nih,.. ^^




 
 









Bagus kan!.. ^^ pengen tau cara pembuatannya ?? ane jelasin, simak baik-baik..

1.      Siapkan Bahan yang Diperlukan :
1. Tanaman yang akan ditanam
2. Lumut atau Serabut kelapa (bisa diganti dengan medium lain yang mudah menyerap air)
3. Pupuk kompos
4. Arang sekam
5. Benang siet

Caranya :
1. Campur pupuk kompos dg arang sekam, lalu bentuk bola bola dan masukkan tanaman ke dalamnya. 
2. Bungkus dengan serabut kelapa, ikat dengan benang siet dan gantung.

Tips merawat kokedama :
Bila sudah memiliki kokedama, perawatan yang dilakukan cukup mudah namun membutuhkan ketelatenan. Untuk perawatan cukup disiram (disemprot) dengan menggunakan air sekaligus dengan pupuknya 2 kali sehari, pagi dan sore. Sesuaikan juga dengan jenis tanamannya. Pemupukan dilakukan dua minggu hingga sebulan sekali. Selain itu kebutuhan tanaman akan sinar matahri juga perlu diperhatikan. Jika tanaman memang diletakkan indoor, maka setiap dua minggu sekali tanaman dapat dikeluarkan agar memperoleh cahaya matahari. Hal itu juga dimaksudkan agar daun tidak menjadi kusam dan pucat. Dan bila media sudah terlalu kering, media dapat direndam dalam air kemudian diangkat hingga tiris.


Mudahkan ?  ^^ Selamat Mencoba..








Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman